new normal

new normal

Indonesia harus bersiap menghadapi dan beradaptasi “new normal”. Pandemi Covid-19 mengisyaratkan banyak sektor salah satunya kerapuhan pada sistem pangan terutama rantai distribusi. Guncangan disrupsi Covid-19 pada sektor pertanian menyebabkan berbagai bisnis harus beradaptasi salah satunya bisnis pertanian (agribisnis). Pemerintah telah membantu dan memperhatikan sektor pertanian dari hulu hingga hilir berjalan dengan baik. Mulai dari penyediaan sarana produksi di hulu, penyediaan tenaga kerja dan sarana pendukung sampai penanganan komoditas pertanian di hilir. Dibutuhkan strategi mengatasi masalah ketahanan pangan dan sistem persediaan pangan, karena ketahanan pangan dari sisi ketersediaan, keterjangkauan/akses dan konsumsi pangan harus tetap terjamin. Dengan adanya hal tersebut perlu adanya perubahan untuk menyesuaikan dengan kondisi yang terjadi saat ini.

 

Perubahan perilaku untuk menjalani hidup normal seusai pandemi, apa saja yang perlu dilakukan?

Pemerintah

Pada sesi kemarin di acara Webinar Agri-Talk, mereka mencoba memformulasikan dan mendiskusikan dari berbagai sudut pandang. Hal tersebut untuk pembangunan sektor pertanian agar mampu beradaptasi pada era “new normal” ini. Terdapat bebrapa kebijakan yang telah di gelontorkan oleh pemerintah di antaranya:

 

  1. Dukungan logistik berupa pusat logistik lumbung pangan Jatim, rantai pasok, perluasan akses pasar, stimulan ekonomi berupa restrukturisasi kredit, program padat karya, sampai pada jaring pengaman sosial diberikan pada petani.
  2. Program rutin seperti asuransi pertanian,
  3. Program Pekarangan Pangan Lestasi dan
  4. Berbagai program bantuan kepada keluarga petani tetap dilakukan.

 

Akademisi

Pada sisi lain, pembangunan pertanian juga membutuhkan dukungan dari akademisi berupa advokasi dan edukasi. Perhepi (Perhimpunan Ekonomi Pertanian) telah membahas strategi bagi sektor pertanian agar mampu beradaptasi di era “new normal” dari perspektif organisasi profesi bidang ekonomi pertanian. Terdapat beberapa rekomendasi dari Pengurus Pusat Perhepi diantaranya ialah:

  1. Perlu antisipasi dan mitigasi krisis pangan dengan pola baru on farm, off farm sampai agroindustri.
  2. Pemerintah perlu melakukan realokasi APBN/D untuk mendukung upaya tersebut. Pembangunan agroindustri yang memberikan nilai tambah bervisi regional (desa-kota) perlu menjadi perhatian
  3. Visi merdeka belajar, kampus merdeka dalam pendidikan pertanian diarahkan pada peran aktif civitas akademika perguruan tinggi untuk terjun langsung pada komunitas petani dalam bentuk pengabdian masyarakat dan kegiatan Kuliah Kerja Nyata mahasiswa yang bersifat tematik sesuai dengan kebutuhan.
  4. Praktisi e-commerce mengajak Audiens Webinar Agri-Talk yang berjumlah sekitar 400 orang untuk mulai bergerak dengan prinsip unlocking digital agriculture. untuk membangun ekosistem dan keberlanjutan pertanian lebih baik melalui efisiensi rantai pasok.

 

Prof. Dr. Ir. Rudi Wibowo, MS, Ketua Dewan Penasehat Perhepi menyampaikan bahwa transmisi covid 19 meningkatkan risiko melalui berbagai disrupsi pada rantai pasok, perdagangan dan pemrosesan sehingga diperlukan revitalisasi pertanian inklusif dan berdaya saing agar mampu beradaptasi pada era new normal. Hal-hal penting menyangkut stabilitas irama suplai dan demand sampai menjaga semangat petani perlu dilakukan oleh berbagai stakeholder untuk menjaga garda terdepan ketahanan pangan. Webinar Agri-Talk direspon oleh peserta yang berasal dari berbagai kalangan yang sebagian besar adalah dosen perguruan tinggi di seluruh Indonesia mulai dari Papua, Sulawesi, Kalimantan, Sumatra, NTB dan tentu saja perwakilan dari beberapa perguruan tinggi pertanian di pulau Jawa.

  

Kementerian Pertanian

Sektor pertanian mempunyai peran yang penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Terlebih dalam situasi pandemi Covid-19 yang berdampak terhadap pelambatan pada semua aspek ekonomi. Presiden Joko Widodo menyampaikan arahan yang sangat jelas bahwa aktivitas pertanian tidak boleh berhenti. Kementerian Pertanian diminta mengoptimalkan sumber daya manusia (SDM) pertanian untuk menggenjot produksi dan produktivitas bahkan ekspor.

 

Selama Januari-April 2020, Ketut menambahkan, nilai ekspor pertanian meningkat 16,9% dibandingkan pada periode yang sama tahun 2019, dari Rp 115,18 Triliun meningkat menjadi Rp 134,63Triliun. Surplus perdagangan produk pertanian selama Januari-April 2020 juga meningkat signifikan, yaitu 32,96%, dari sebesar Rp 33,62 Triliun (Januari-April 2019) meningkat menjadi Rp 44,70 Triliun (Januari-April 2020). Tahun 2019, China adalah negara tujuan ekspor utama produk pertanian kita. Dari ekspor produk pertanian senilai US$ 26,31 Milyar (Rp 372,57 Triliun), sebanyak 15,93% diekspor ke China. Negara tujuan ekspor berikutnya adalah India dengan pangsa pasar 11,24%; disusul Amerika 9,03%, Malaysia 5,05%; dan Pakistan 4,73%,

 

Ekspor akan terus ditingkatkan dan ada saat yang sama juga mengurangi impor melalui peningkatan produksi dalam negeri, agar melalui surplus perdagangan produk pertanian yang semakin meningkat diharapkan peran sektor pertanian dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional semakin nyata.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian
en_USEnglish id_IDIndonesian