persoalan

persoalan

Persoalan dalam keragaman tanaman pangan dapat disimpulkan dalam pokok-pokok persoalan yang ada. Yaitu. 1) pergeseran dari sistem tradisional ke sistem produksi yang intensif; 2) benih menjadi eksternal input dalam pengelolalaan pertanian; 3) terkonsentrasinya sumber asal benih dalam industri global; 4) perdagangan yang mengarah pada pasar industri yang terkonsentrasi; dan 5) berlakunya persyaratan keseragaman dalam industri pangan dan homogenisasi dalam budaya pangan.

Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) dalam International Treaty on Plant Genetic Resources for Food and Agriculture (ITPGRFA) mendata bahwa lebih dari 75% dari keragaman tanaman global telah punah tanpa dapat diperbaiki saat memasuki awal abad ke-21.

Penyebab utama yang berkontribusi dari erosi genetika tersebut diantaranya penggantian varietas lokal yang telah beradaptasi dengan varietas yang lebih seragam dan lebih tinggi produksinya. Meskipun persoalannya telah amat jelas, sayangnya hal tersebut tidak tercermin dalam keberpihakan dari para perumus kebijakan di Indonesia.

 

Kontribusi Indonesia Terhadap Dunia

Sebagai negara peratifikasi. Maka Indonesia diwajibkan mengakui kontribusi yang sangat besar yang akan terus diberikan oleh masyarakat lokal dan asli, serta petani. Negara seperti Indonesia, yang berada di pusat keanekaragaman tanaman dunia. Menjadi penting untuk melibatkan petani dan para pemulia tanaman untuk melakukan konservasi dan pengembangan sumber daya genetik tanaman. Hal tersebut diperuntukkan untuk menjadi basis produksi pangan dunia.

Secara khusus, maka setiap negara, apabila sesuai, dan tergantung pada peraturan perudangan-undangan nasionalnya. Perlu mengambil langkah untuk melindungi dan mendorong hak-hak petani. Hak tersebut termasuk.

a) perlindungan pengetahuan tradisional yang relevan dengan sumber daya genetik tanaman untuk pangan dan pertanian;

b) hak untuk berpartisipasi secara berimbang dalam pembagian keuntungan yang dihasilkan dari pemanfaatan sumber daya genetik tanaman untuk pangan dan pertanian; dan

c) hak untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan, pada tingkat nasional, mengenai hal-hal yang berkaitan dengan konservasi dan pemanfaatan secara berkelanjutan sumber daya genetik tanaman untuk pangan dan pertanian.

Dengan demikian, ketentuan dalam ITPGRFA ini tidak boleh ditafsirkan dengan cara membatasi hak petani untuk menyimpan, menggunakan, mempertukarkan dan menjual benih/bahan perbanyakan hasil tanaman sendiri.

Baca juga : Jeritan Petani dari Kemerdekaan hingga Sekarang di TaniTernak


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian
en_USEnglish id_IDIndonesian