new normal

new normal

New Normal Tahun 2020, Peternak sebagai Pahlawan.

Sebagian orang menilai bakal ada tatanan ‘new normal’ dan kebiasaan baru lain karena hidup terasa begitu berbeda belakangan. Sebagian lagi percaya hidup akan kembali normal setelah pandemi usai. Pandemi corona telah menampar kita sedemikian dahsyatnya, mengubah tatanan hidup manusia, dan memaksa kita merugi secara material plus non-material. Orang-orang mulai memprediksikan tatanan ‘new normal’ di mana kebiasaan kita betul-betl berubah. Mengenakan masker belakangan jadi perilaku umum, bukan lagi sebuah aksi penyamaran dari publik atau niatan menghalau debu saat naik motor. Menikah tanpa pesta yang sejak dulu tabu bukan main, belakangan jadi hal yang lumrah. Bukan tidak mungkin pasca pandemi kita justru nyaman dengan hidup yang terlanjur bergeser. Menjalani sebuah kebiasaan baru yang tanpa sengaja mengalami normalisasi. Kita akan menjalani pola kehidupan baru sebagai manusia sosial. Tetap di rumah, work from home, jaga jarak, social distancing, mengurangi kerumunan, memakai masker, sering cuci tangan, menjaga daya tahan tubuh adalah deretan terminologi yang menjadi “mainstream” peradaban manusia di tengah pandemi sekarang ini. Tentu saja, manusia mengisolasi diri di rumah ini tidak mungkin dilakukan selamanya. Ada juga beberapa hal yang akan menjadi “new normal” bagi masyarakat Indonesia :

 

1. Kumpul Online

Panggilan video adalah “new normal”, setidaknya bagi saya dan kawan-kawan. Bahkan kami melakukan panggilan video sambil melakukan aktivitas lain seperti makan, menonton film, dan membaca buku. Mereka seperti hadir, tapi saya tidak dituntut untuk selalu menatap wajah mereka di layar, kami seperti benar-benar berada di satu ruangan. Sehingga tidak ada sedikit pun yang tersinggung ketika akhirnya kami saling mengabaikan.

 

2. Pasar Berjarak

 Skema pasar berjarak demi mengindahkan pembatasan sosial sudah dilakukan oleh beberapa kota di Indonesia. Pasar pagi harus terus berjalan, roda ekonomi tidak boleh berhenti, maka pasar berjarak adalah sebuah kondisi baru yang bisa dikategorikan sebagai ‘new normal’. Bukan tidak mungkin ini akan terus diterapkan sekaligus untuk menjaga kebersihan. Karena kita tahu, bukan cuma corona yang menular saat kita berdekatan.

 

3. Bioskop, Privat di Rumah. 

Kebiasaan menonton berjamaah terasa sangat primitif, memang. Tapi teknologi dan pelayanan bioskop sebagai pemutar film ingin tetap kita rasakan saat itu. Sementara sekarang, new normal pada industri perfilman bisa saja datang. Kita akan lebih banyak menonton film dari gawai atau membuat teater privat di rumah. Menyaksikannya dengan orang terkasih sambil tiduran dan makan cemilan yang tentu saja tidak semahal kalau beli di XXI.

 

4. Pesta pernikahan dengan penuh undangan, menghilang.

Selama ini kita hidup dalam anggapan kaku soal pesta pernikahan yang semakin banyak undangannya maka semakin bagus status sosialnya. Belum lagi dengan berbagai dekorasi, hidangan resepsi, dan berbagai tindakan lain yang sebenarnya bisa ditekan untuk tidak berlebihan. Tradisi yang hampir mustahil didobrak perlahan runtuh sendiri. Orang-orang semakin menyadari pernikahan bukan soal pestanya, tapi akadnya. Nyatanya menikah di Kantor Urusan Agama atau Gereja sudah cukup. Bagaimana pun, pernikahan akan tetap menjadi sebuah gelaran sakral yang kita hormati.

 

5. Peternak pahlawan pangan.

Minimal hal ini saya rasakan sendiri. Saya betul-betul menyadari bahwa seberapa hypebeast penampilan saya itu nggak penting. Seberapa mahal jam tangan, seberapa warna-warni kaus yang saya kenakan, seberapa modern hidup ini sungguh akan sia-sia. Apa yang membuat kita tetap bernapas adalah makanan dan minuman. Kebutuhan dasar paling hakiki yang perlu dipenuhi setiap hari. Uang tidak ada artinya, jika pada akhirnya kita sama-sama cuma butuh nasi untuk dikunyah. Memaami betapa fana apa yang saya punya adalah new normal. Selepas pandemi berakhir saya nggak bisa lagi meremehkan mereka yang bercocok tanam dan beternak, mereka adalah sumber ketahanan.

 

 

Spesies coronium.

Menurut para ahli, proses penemuan vaksin sampai hilirisasi di sektor industri memerlukan waktu yang lama, bisa jadi lebih dari satu tahun. Padahal pola “di rumah” telah meruntuhkan sektor ekonomi, yang menjadi basis kehidupan umat manusia. Inilah mengapa kita harus melakukan new normal. Kembali ke kehidupan normal, dengan pola baru. Hal ini, sebagaimana yang disinggung di atas, akan melahirkan prototip manusia baru, spesies coronium.

Coronium adalah purwarupa manusia baru, di mana pola interaksi langsung yang menjadi tabiat “asli” manusia mencoba diminimalisasi. Contoh sederhana, salaman. Salaman yang selama bertahun-tahun lamanya menjadi produk peradaban manusia, apalagi pada masyarakat muslim, dengan sukarela harus mulai kita hilangkan.

 Saat ini, kita sudah menyaksikan, bagaimana tradisi beragama yang selama bertahun-tahun dilestarikan harus ditinggalkan: salat berjamaah, Tarawih, Salat Id, mudik, halal bihalal, silaturahmi. Sebagai produk kebudayaan, ritus dan situs keberagamaan tersebut harus rela untuk ditinggalkan. Coronium adalah purwarupa baru yang kira-kira tidak akan melestarikan produk keberagamaan tersebut, atau walaupun masih melestarikan, namun dengan model dan format yang berbeda.  Belanja online, seminar online, webinar, belajar online, kerja online adalah karakter baru coronium ini. Belanja online yang saat ini sudah akrab dilakukan, faktanya sudah mampu menjadi pola peradaban baru, bahkan dikabarkan sudah mulai mengancam pasar, swalayan, dan toko riil. 

Saya tidak bisa membayangkan, bagaimana jika pandemi ini terjadi pada era belum ditemukannya internet. Syukurlah, kehidupan telah “menganugerahkan” internet kepada kita, sehingga kita masih bisa survive di tengah pandemi, setidaknya ruang sosialisasi antarmakhluk sosial masih bisa dilakukan. Kita semua tentu berharap pandemi ini akan segera berakhir, dan kita akan kembali menjadi manusia normal –tanpa kenormalan baru, tatanan baru, apalagi spesies baru. Namun, alam selalu menjaga keseimbangannya, berubah, bermetamorfosis, dan berevolusi sesuai kehendaknya.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian
en_USEnglish id_IDIndonesian