lahan

lahan

Desa Gelebak Dalam, Kecamatan Rambutan, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, menyediakan lahan untuk dijadikan laboratorium pertanian, perikanan, peternakan, dan kehutanan. Tujuannya, selain transformasi ilmu pengetahuan, mendorong lahirnya petani muda dari generasi milenial di desa tersebut. Desa Gelebak Dalam, Kecamatan Rambutan, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, merupakan desa mandiri pangan dan air bersih. Namun, desa ini mengalami krisis petani muda dan kehilangan hutan.

Yang di Lakukan Pemerintah Desa

Pemerintah desa menyediakan lahan bagi mahasiswa atau perguruan tinggi, juga lembaga penelitian terkait pertanian, perikanan, peternakan, dan kehutanan. Harapan Bapak kepala desa aalah para mahasiswa dapat mentransformasi ilmu pengetahuan sekaligus merangsang generasi muda milenial desa ini agar minat jadi petani. Terus terang, desa kami mengalami krisis petani muda. Banyak yang suka bekerja sebagai buruh atau pekerjaan lain di kota. Tak heran, banyak petani dari desa lain yang bekerja di sini.

Karakteristik Desa

Desa Gelebak Dalam yang luasnya 17.779 hektar dan berpenduduk sekitar 2.100 jiwa, saat ini menjadi desa mandiri pangan dan air bersih. Sebelumnya, desa ini dikenal langganan kebakaran hutan dan lahan [karhutla]. Tapi sejak 2015, desa ini melakukan upaya perbaikan pengelolaan pertanian, khususnya persawahan, dengan menggunakan Bios 44 sebagai pengganti pupuk. Juga, menggunakan teknologi pertanian yang didukung Korem 044 Garuda Dempo dan pemerintah. Titik api pun tidak lagi ditemukan di Desa Gelebak Dalam. Sekitar 800 hektar lahan persawahan, kini menghasilkan gabah sekitar 4.800 ton setiap panen, yang dikelola 500 kepala keluarga. Dalam setahun, persawahan itu dua kali tanam. Sementara rawa gambut seluas 200 hektar yang sebelumnya sering terbakar, sudah dikelola menjadi lahan persawahan dan perikanan. Dua tahun terakhir, desa ini mandiri air bersih. Sebelumnya warga desa mengonsumsi air mineral yang dikirim dari Palembang.

Setiap bulan, desa kami mengeluarkan biaya sekitar Rp42 juta untuk membeli air bersih dari Palembang. Kini, sejak adanya Filter Air Nusantara atas bantuan Korem 044, yang dikelola Bumdes [Badan Usaha Desa], biaya yang dikeluarkan warga berkurang. Uang itu kembali ke kas desa, digunakan untuk pembangunan.

Baca juga : Persoalan Keragaman Tanaman Global Telah Punah di TaniTernak.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian
en_USEnglish id_IDIndonesian