lahan gambut

lahan gambut

Pembukaan lahan gambut untuk persawahan di Kalimantan, sebagai Kehawatiran krisis pangan. Pasa masa pandemi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), banyak negara yang ketakutan dengan terjadinya krisis pangan. Setidaknya, ada 200.000 hektar tanah gambut di Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, siap jadi lumbung padi baru. Kriteria pemilihan tanah hingga penerapan teknologi sesuai menjadi kunci utama keberhasilan pertanian di lahan gambut. 

 

Kriteria Pemilihan Lahan

Pemilihan lahan perlu adanya pertimbangkan tiga kriteria yaitu, pertama, kesesuaian fungsi gambut, kedua,kesesuaian lahan, ketiga, ketersediaan sumber daya air dan infrastruktur penunjang. Berdasarkan penelitian Balai Besar Litbang Sumber Daya Lahan Pertanian (BBSDLP). Tanah gambut dapat dimanfaatkan untuk tanaman pangan dan sayuran apabila memiliki ketebalan 50-100 cm dan kematangan hemik dan sapric. Keberadaan pirit lebih 50 cm juga jadi aspek penting mengetahui tingkat keasaman dan konsentrasi racun dalam tanah. 

Ketersediaan sumber daya air dan infrastruktur penunjang juga sangat berpengaruh terhadap keberhasilan proses tanam hingga panen. Meskipun gambut adalah tanah basah, bukan berarti pertanian di gambut berjalan tanpa ada sumber air. Hal ini karena kebutuhan lahan untuk mendapat asupan nutrisi mengingat sifat alamiah gambut asam dan mengandung nutrisi yang rendah (oligotrophic). Infrastruktur penunjang, yakni saluran irigasi yang dilengkapi pintu-pintu air dan sekat kanal perlu untuk menata alur pengairan serta menjaga tinggi muka air tanah gambut agar tetap basah. Ketika kebasahan gambut tetap terjaga, zat-zat asam dan beracun di dalamnya tidak akan keluar dan menyebar ke seluruh lahan pertanian. Kondisi ini akan mengurangi risiko kegagalan panen, dan menekan laju pengeluaran emisi CO2 dari gambut.

 

Belajar dari Kesalahan Masa Lalu

Alasan dasar pengembangan proyek ini adalah ancaman kerusakan gambut yang tak terpelihara dan kondisi masyarakat yang tinggal di sekeliling hidup dalam kemiskinan. Sama seperti desa-desa lain di bekas PLG, lahan gambut sudah dicetak sebagai lahan pertanian terbengkalai dan jadi lahan tidur. Akibatnya, kebakaran lahan terus berulang dan masyarakat hidup dalam kemiskinan. Meskipun setiap keluarga memiliki dua hektar lahan pertanian (berserfifikat), mereka tak memiliki dukungan modal dan teknologi untuk mengelola gambut. Alhasil, sebagian besar warga merantau ke desa lain untuk jadi buruh tani. Ibarat nasi sudah jadi bubur, peninggalan bekas PLG dan proyek serupa perlu diselesaikan guna menghindari dampak negatif dari gambut terdegradasi. Dengan memanfaatkan peninggalan infrastruktur dan sosial yang memenuhi kriteria bisa jadi opsi bagi pemerintah mewujudkan gagasan membuat lumbung padi di gambut secara efektif. Dengan demikian, pemerintah dapat mewujudkan ketahanan pangan dan memperbaiki kesalahan masa lalu.

 

Baca juga : Cara Baru dalam Bertani yang Menguntungkan pada website TaniTernak 


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian
en_USEnglish id_IDIndonesian