petani

petani

Petani asal Desa Kembang, Buka Teja, Purbalingga, Jawa Tengah berakata, bahwa selama 62 tahun berkarir sebagai pahlwan pangan. Belum ada kebijakan yang substantial yang benar – benar berdampak atau berpihak pada nasib para pahlawan pangan Indonesia. Lelaki 82 tahun ini coba kilas balik perjalanan hidupnya. Saat zaman kemerdekaan, petani begitu dihargai. Petani sebagai pejuang sukarela tanpa ada yang meminta menyediakan sumber bahan makanan. Lambat laun seiring perjalanan kemerdekaan keberadaan pahlwan pangan dipinggirkan. Jeritan mereka dari kemerdekaan hingga sekarang, yang dulunya dihargai oleh pemerintah sekarang menjadi tidak berdaulat. 

 

Bukti Tangis Petani

Pada zaman setelah kemerdekaan, cara petani menanam diatur oleh pemerintah. Mulai dari benih, pupuk, hingga bahan kimia pengusir hama harus ikut aturan yang telah disediakan. Semua Sudan dibukus dengan baik oleh pemerintah dengan program dan paket. Petani harus beli, tidak boleh memproduksi bibit lagi. Padahal, pemerintah tidak membuat sendiri, ada perusahaan yang memasok. Bila tidak patuh akan berurusan dengan aparat pemerintah yaitu KORAMIL (Komando Rayon Militer). 

Selama ini, tidak ada kebijakan yang pro pahlwan pangan, termasuk kebijakan ketahanan pangan yang saat ini diusung oleh pemerintah. Apapun aturan yang dibuat, ujung-ujungnya justru menyengsarakan mereka. UU No 18/2012 tentang Pangan, sampai sekarang tidak jelas pelaksanaannya. Sudah dua tahun berjalan, rencana pangan yang dilakukan Kementerian Pertanian hingga Dinas Pertanian sekalipun, tidak tampak hasilnya. Masalah pangan harus diprioritaskan dengan menggandeng petani sebagai pemeran utamanya. Ada dua agenda besar yang kita hadapi SDGs (Sustainable Development Goals) dan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Jika dua hal besar ini tidak diikuti dengan baik, habislah riwayat pangan kita. “Apa masih berani unjuk gigi kedaulatan pangan sementara petaninya terkapar?”.

Dari data yang dihimpun, Lembaga Global Harvest Initiative memprediksi, kebutuhan pangan dunia pada 2050, meningkat dua kali lipat dari saat ini seiring meningkatnya jumlah penduduk. Tidak hanya menggenjot hasil pertanian tetapi juga mencari sumber-sumber lahan subur. Semua persoalan ini bersandar pada pemerintah dan negara dunia menempatkan petani dan pertanian sebagai prioritas utama.

Baca juga: Selama ini kita begitu bangga dengan sebutan negeri agraris dan kaya dengan pangan


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian
en_USEnglish id_IDIndonesian