Krisis Pangan

Krisis Pangan

Indonesia aman dari krisis pangan di saat covid-19 karena lahan pertanian pangan yang menghidupi jutaan petani hanya bertambah 2,96%. Hal tersebut berbanding jauh dengan lahan perkebunan yang bertambah 144%. Telah terjadi penurunan Rumah Tangga Pertanian [RTP] dari 31,170 juta [2003] menjadi 26,126 juta [2013]. Berdasarkan data tahun 2013, kondisi luas lahan yang dimiliki petani juga belum beranjak dari luas 0,2 hektar per RTP. Luas lahan petani berkisar 1.000 – 2.000 meter persegi. Bahkan masih sering ditemui petani dengan luas lahan 500 meter persegi. Rantai pasokan makanan yang aman ini sebenarnya dijamin 26,125 juta RTP tersebut, yang produksinya selama ini memberi makan warga di banyak desa dan kota atau, memberi makan seluruh rakyat Indonesia. 

 

Indonesia Aman Krisis Pangan

Indonesia penuh dengan produsen makanan skala kecil yang menawarkan solusi siap pakai untuk masalah-masalah yang mengkhawatirkan atau, memiliki makanan lokal yang sehat dan tidak bergantung pada rantai pasokan panjang yang berisiko terkena dampak drastis pandemi corona ini. Namun, permasalahannya kebijakan pertanian atau ekonomi dari pemerintah. Pertanian yang harusnya fokus memberi makan populasi kita, sebenarnya tunduk pada kepentingan globalisasi dan pasar internasional. Akibatnya, suplai makanan dan kedaulatan pangan dipertanyakan dan berisiko. Kebijakan-kebijakan ini menghancurkan ribuan pertanian kecil, yang kemudian membahayakan ketahanan pangan bagi seluruh populasi. Tidak adanya kebijakan lokal untuk menjamin ketersediaan pangan membuat sengkarut penanganan pangan bila terjadi geger nasional. Rantai pangan yang panjang, 7-8 pemangku kepentingan untuk pangan ini, semua harus sentralisasi. 

Pemerintah harus terus menggenjot tingkat produktivitas komoditas pangan. Petani dan penyuluh pertanian sebagai garda depan pertanian harus dipastikan dan dijamin kesehatannya sehingga selalu siap terjun ke lahan. Dari sisi pencegahan, bagaimana meningkatkan asupan gizi para petani, tetap memakai masker saat di lahan, dan selalu membudidayakan minum jamu selama wabah COVID-19 ini. Pemerintah juga harus memberikan perhatian yang baik bagi para petani dan penyuluh, serta selalu diberikan suntikan IPTEK bagaimana meningkatkan produktivitas. 

 

Food Style

Tidak begitu yakin Indonesia akan mengalami krisis pangan selama wabah corona. Sebab, aktivitas pertanian terus berjalan, didorong besarnya permintaan pasar dan adanya jaminan pemerintah. Kualitas makanan yang rendah juga menjadi faktor kurangnya kekebalan tubuh pada seseorang, sehingga rentan terkena COVID-19. Food style sebagian besar masyarkat kita masih sekadar terpenuhinya rasa “kenyang” tanpa memandang makanan tersebut aman, bernutrisi atau tidak. Namun food style beberapa masyarakat sudah mulai bergeser ke pangan bernutrisi, bahkan pangan fungsional sudah menjadi tren di beberapa kalangan masyarakat. Nutrisi sangat berperan terhadap daya tahan tubuh. Kurang gizi menyebabkan pertahanan tubuh lemah, mudah infeksi. Jika indeks massa tubuh tinggi kelebihan berat badan atau kegemukan menyebabkan peradangan berlebihan, rentan infeksi seperti influenza, dan lebih berisiko komplikasi sehingga penyakit yang ditimbulkan lebih parah. Ada beberapa hal yang memengaruhi mutu pangan di Indonesia.

Pertama, penyeragaman pangan. Yakni beras. Padahal tidak semua tanah di Indonesia dapat dijadikan sawah. Ironinya dalam menangani pangan ini, banyak pohon sagu dan tanaman lainnya yang selama ini sebagai pangan lokal, dihabisi.

Kedua, jarak pangan dari petani ke konsumen begitu panjang. Dari petani-pengepul kecil desa-pengepul besar desa-pengepul kota-distributor kota. Lalu dari distributor kota-distributor desa-warung-konsumen. “Suhu, kelembaban, dan kerentanan busuk, terkontaminasi terjadi di sini,” katanya.

Ketiga, saat ini tidak lebih dari 10 persen produsen penghasil beras organik. “Belum lagi pangan dari laut dan sungai yang tercemar,” ujarnya.

Keempat, sistem pergudangan pangan Indonesia belum mampu menjamin mutu pangan. “BULOG saja menghasilkan beras busuk, berkutu di tahun 2019. Sekelas gudang BULOG terdapat 20.000 ton mengalami penurunan mutu.”

Kelima. Kandungan polutan. “Cara membacanya sederhana saja, bila hanya 10 persen dari total produksi organik maka 90 persen produksi pangan kita berpotensi mengandung polutan,” pungkasnya.

Baca juga :Krisis Pangan Ditengah Covid-19, Petani dan Peternak Sebagai Pahlawan Pangan.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian
en_USEnglish id_IDIndonesian