bertani

bertani

Cara baru dalam bertani yang menguntungkan karena mereka tidak perlu menjual lahan kepada orang. Mereka masih bisa mendapatkan keuntungan sebagai pengelola lahannya sendiri. Komoditas yang ditanam petani-petani muda Bali pada umumnya yang memiliki nilai jual tinggi. Contoh tumbuhannya seperti pisang, alpukat, dan vanili, selain juga tetap memperhatikan tanaman umur pendek seperti hortikultura. Bagi petani-petani muda Bali, bertani tak hanya sekadar budidaya, tetapi juga menjaga akar pulau Bali sebagai pulau pertanian.

 

Sejak akhir Januari 2020, Bali mulai mengalami dampak pandemi COVID-19. Jumlah turis terus menurun bahkan kemudian nyaris tidak ada sama sekali setelah adanya penutupan penerbangan komersial maupun perhubungan darat dan laut, untuk mencegah meluasnya penularan virus corona baru penyebab COVID-19 di kiblat pariwisata Indonesia ini. Ketika pandemi menghantam Bali dan pariwisata terpuruk, wacana lama pun kembali muncul, Bali sebaiknya kembali ke pertanian sebagai penopang utama pembangunan ekonominya. Selama ini, Bali dianggap terlalu menomorsatukan pariwisata dan, sebaliknya, melupakan pertanian, sebagai akarnya. Namun, bagi sebagian anak muda, kembali pertanian itu tak lagi sekadar wacana. Mereka kembali ke pertanian setelah sebelumnya menggantungkan hidup dari pariwisata. Sebagian lain telah lebih dulu terjun ke sawah, kebun, dan kandang lalu menggunakan teknologi informasi untuk menaikkan pendapatan petani sekaligus harapan bahwa pertanian bisa menjadi masa depan Bali.

 

I Nengah Sumerta, 38 tahun, punya mimpi besar. Kurang dari sepuluh tahun nanti, penduduk Bali tidak akan lagi bergantung kepada pasokan buah dan sayur dari luar Bali. Apalagi impor. Dia bermimpi petani Bali bisa menjual buah dan sayur itu keluar pulau atau bahkan negara lain. Impian itu berangkat dari fakta dan data betapa Bali sangat tergantung pada pasokan pangan dari luar Bali, terutama sayur dan buah-buahan. Bersama teman-temannya sesama petani muda, mereka menelusuri fakta itu pasar-pasar. “Padahal dari sisi sumber daya alam dan manusia, Bali ini sangat bisa mencukupi kebutuhannya sendiri jika dikelola dengan baik,” ujarnya.

Baca juga: Papua kembali ke pangan lokal, antisipasi krisis pangan.

 


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian
en_USEnglish id_IDIndonesian