Peternak Cara Lama

Budidaya sapi potong atau penggemukan sapi sudah cukup lama secara turun temurun dilakukan oleh para peternak sapi potong di perdesaan. Umumnya para peternak dalam membudidayakan sapi potong ini, masih sekedar pendapatan sampingan dengan cara pemeliharaan tradisional dan seadanya, cukup memberikan pakan seadanya dengan kandang sapi yang tidak sesuai teknologi yang dianjurkan ternak sapi. Penjualan sapi akan dilakukan sesuai dengan kebutuhan keluarga. Seperti halnya anak sekolah, keperluan membangun rumah dan lain sebagainya.  

Cara Meningkatkan Keuntungan

Pada umumnya setiap peternak menginginkan keuntungna yang sebesar besarnya.

Untuk meningkatkan nilai tambah keuntungan pada usaha budidaya sapi potong, diperlukan adanya sentuhan teknologi pada proses budidaya sapi potong dari awal hingga siap jual.

Sekarang sudah waktunya untuk dilakukan perubahan pola budidaya sapi potong dengan menerapkan pola usaha berorientasi bisnis, yang memiliki arti bahwa dalam mengelola usaha budidaya sapi potong peternak sapi potong harus mau dan mampu melakukan perubahan pola budidaya sapi potong berorientasi sesuai dengan permintaan kebutuhan pasar dengan cara yang efektif dan efisien. Guna memperoleh keuntungan semaksimal mungkin. Artinya petani ternak sapi potong harus mau dan mampu memenuhi permintaan kualitas daging yang dikehendaki konsumen. Rekomendasi teknologi yang dianjurkan dalam beternak sapi potong  adalah teknologi penggemukan pada sapi potong.

Teknologi Untuk Menunjang Pendapatan

Teknologi penggemukan pada sapi potong tidak hanya sekedar mendapatkan kualitas daging yang sesuai permintaan konsumen saja, tetapi mempunyai tujuan meningkatkan produksi daging per satuan ekor, mengurangi jumlah populasi ternak sapi potong yang menurun akibat pemotongan dengan jumlah yang banyak. Dan juga dapat mencegah terjadinya pemotongan ternak betina produktif yang dapat dikembangbiakkan. Dengan budidaya sapi potong sistem penggemukan selain akan menghasilkan kualitas daging juga akan meningkatkan nilai tambah yang dihasilkan dari kotoran sapi. Artinya kotoran sapi dapat diolah menjadi pupuk kandang yang dapat dijual atau dipakai sendiri di lahan pertanian dan juga tidak menutup kemungkinan digunakan sebagai bahan baku pembuatan biogas yang dapat dimanfaatkan untuk memasak.

 

Kebutuhan Air Seekor Sapi

Kebutuhan air seekor sapi tergantung dari macam pakan yang diberikan. Samad S, (1978), menyatakan air minum sangat dibutuhkan untuk mengimbangi bahan kering pakan yang dikonsumsi dalam proses metabolisme dan sebagai pelarut zat- zat makanan, sebagai bahan pengantar zat-zat makanan ke seluruh tubuh dan sebagai komponen pembentuk bahan-bahan tertentu seperti air susu, air ludah, enzim dan sebagainya. Konsumsi bahan kering pada pakan akan mempengaruhi tingkat konsumsi air pada kondisi lingkungan yang normal. Secara umum volume air yang dibutuhkan oleh sapi berkisar 2-5 Liter/kg bahan kering pakan. Makin tinggi bahan kering dalam suatu bahan pakan, makin banyak air yang dikonsumsi oleh sapi. Jika ternak di daerah kering diberi pakan lamtoro maka kebutuhan akan air minum makin banyak, jadi untuk mengurangi kebutuhan air minum pada ternak di daerah kering ternak harus diberikan hijauan yang kandungan airnya tinggi seperti rumput lapangan.

Air bukan gizi bagi sapi tapi sangat penting dalam proses pencernaan; 85–90% sistem pencernaan hewan pemamah biak seperti sapi adalah air. Proses yang membutuhkan air pada pencernaan sapi ialah:

  • Untuk membantu proses fermentasi atau sebagai substrat
  • Untuk mempermudah proses pengangkutan mineral dan metabolit
  • Untuk menjaga kesehatan semua sel-sel tubuh
  • Untuk mengeluarkan racun dan zat-zat yang tidak diinginkan
  • Untuk semua fungsi homeostasis, termasuk keseimbangan darah dan pengaturan suhu.

 

Sapi yang berada di Asia atau Indonesia membutuhkan air untuk minum sekitar 40 liter per kepala setiap hari dan bisa mencapai 100 liter pada hari-hari panas. Air minum segar yang bersih harus tersedia setiap saat; jika hewan mengalami dehidrasi, maka akan mengakibatkan nafsu makan menjadi lebih sedikit dan pertumbuhan berjalan lebih lambat. Kandungan garam terlarut di dalam air sebagai pengukur kualitas air. Jika kandungan garam terlarut lebih dari 5000 per juta (ppm), air tidak dapat digunakan untuk sapi. Pada kebutuhan air ini and harus :

  1. Memastikan stok mempunyai air bersih yang tersedia di setiap waktu
  2. Memiliki minimal dua hari persediaan untuk seluruh sapi di gudang, biasanya gravity fed.
  3. Menguji air minum setiap tahunnya untuk konten garam, tidak boleh melebihi 5.000 ppm
  4. Membersihkan bak air minimal dua hari sekali untuk menyimpan air segar dan bebas dari sampah dan jamur.

 


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian
en_USEnglish id_IDIndonesian