Ayam

Ayam

Peternakan ayam merupakan sektor terbesar pada industri peternakan di Indonesia. Namun lima tahun terakhir ini (2015 – 2020) Industri perunggasan rakyat, khususnya peternak ayam broiler, identik dengan cerita kesedihan. Industri perunggasan rakyat, khususnya peternak ayam mandiri, bukan hanya mengalami pukulan berat, akan tetapi industri mandiri penopang kehidupan jutaan warga di Indonesia terancam gulung tikar. Dari Januari – Juli 2018 muncul harapan dan semangat baru karena harga yang kian membaik, Namun mulai Agustus 2018 hingga 2019 harapan itu kembali hilang. Harga daging ayam hidup di peternak jatuh dan bertahan di bawah biaya produksi. Pada tahun 2019, harga ayam hidup hanya Rp 10 ribu/kg. Padahal biaya produksi Rp 19 ribu/kg. Kebijakan pemerintah yang tetap membatasi impor jagung membuat harga pakan naik.

 

Usaha para peternak

Peternak ayam mandiri berulang kali menyampaikan aspirasi ke pemerintah, baik Kementerian Pertanian maupun Kementerian Perdagangan. Mereka juga bertemu Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dan diundang ke Badan Intelijen Negara (BIN). Tak terhitung berapa kali pertemuan para pihak (peternak, perusahaan integrator, asosiasi peternak, Satgas Pangan, dan Tim Analisa Penyediaan dan Kebutuhan Ayam boiler dan Telur Konsumsi bentukan Kementan) dilakukan, terutama difasilitasi Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, untuk mencari jalan keluar. Namun, solusi mujarab tak kunjung tiba. Seringkali kesepakatan hasil pertemuan berhenti sebagai dokumen macan kertas: bagus dalam rumusan, namun tidak ada sama sekali dalam eksekusi/pelaksanaan.

 

1. Kebijakan

Pengurangan Day Old Chick Final Stock (DOC FS) broiler sebesar 30% dari populasi telur tetas fertile di seluruh Indonesia merupakan salah satu hasil dari pertemuan. Pengurangan diyakini membuat pasokan DOC menurun. Harapannya, produksi ayam hidup turun, dan secara berangsur-angsur harga ayam hidup bakal naik. Itu berarti diyakini produksi DOC berlebih. Sebetulnya, info seperti ini berulang kali disampaikan peternak.

Mengapa pengurangan produksi DOC FS dilakukan? Karena pasokan ayam hidup berlebih, harga terus turun, bahkan terjun bebas hingga membuat sejarah baru: anomali pasar ayam broiler. Dalam empat tahun terakhir (2015-2018), harga ayam –baik di tingkat peternak maupun di eceran akhir—selalu naik menjelang dan pada saat Ramadan hingga Idulfitri. Ini bisa dilihat dari harga ayam hidup yang tinggi pada 2015 (Ramadan terjadi pada Juli-Agustus), pada 20 16 (Juni-Juli), pada 2017 (Juni), dan pada 2018 (Mei-Juni). Selama empat tahun terakhir itu harga ayam hidup di produsen dan konsumen membentuk pola khusus yang ajeg. Itu sebabnya, selama empat tahun itu daging ayam broiler menjadi salah satu komoditas penyumbang inflasi yang penting. Untuk komoditas pangan, posisinya selalu di nomor 2 atau 3. Akan tetapi, ritual yang berulang itu tidak terjadi pada 2019. Ketika harga ayam hidup di tingkat produsen jatuh, harga di tingkat konsumen tetap tinggi. Kondisi ini juga terjadi menjelang dan saat Ramadan hingga Idulfitri. Karena harga di tingkat konsumen tinggi, daging ayam broiler tetap menjadi penyumbang inflasi pada Mei 2019 atau saat Ramadan, mengikuti pola umum empat tahun sebelumnya (2015-2018).

 

 

2. Peran Peternak Ayam terhadap Negara.

Untuk komoditas pangan, ayam broiler penyumbang inflasi terbesar ke-2, hanya kalah dari cabai merah. Hanya beberapa hari setelah Idulfitri, harga ayam hidup di tingkat produsen jatuh di titik terendah: Rp 10 ribu/kg. Menurut kalkulasi Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar), sejak Agustus 2018 hingga Agustus 2019 kerugian peternak mencapai Rp 3 triliun. Mereka telah menjual berbagai aset, tapi masih berpeluang terjerat utang besar.

 

 

Permasalahan yang terjadi.

 

Anomali ini perlu ditelusuri apa penyebabnya. Lebih dari itu, ketika harga di tingkat produsen jatuh, sementara harga di level konsumen tetap tinggi, perlu dilacak: siapa yang bermain, siapa pengendali pasar, dan siapa yang menikmati untung paling besar? Satgas Pangan sudah semestinya bisa menelusuri ini: di titik mana dalam rantai distribusi itu pihak-pihak yang mengutip untung besar atau bahkan mengendalikan harga? Jamak diketahui, broker berperan penting dalam pemasaran ternak unggas. Baik perusahaan integrator maupun peternak mandiri mengandalkan peran broker dalam memasarkan ayam hidup. Jangan-jangan mereka ini biang masalah. Bukan mustahil pula, para broker itu dimodali perusahaan integrator agar harga di pasar tetap terkendali. Anomali juga terjadi pada harga DOC. Pada tahun-tahun sebelumnya, ada kaitan erat antara harga DOC dengan harga ayam hidup. Ketika harga DOC turun, harga ayam hidup juga turun. Demikian pula sebaliknya. Akan tetapi, sejak Januari 2018 hubungan linier ini tidak terjadi. Ketika harga ayam hidup di produsen jatuh pada Agustus 2018, harga DOC terus merangkak naik. Bukan mustahil, sebagai produsen DOC, integrator mengendalikan harga benih ayam usia sehari itu. Ini terjadi karena posisi integrator memang amat kuat. Ujung-ujungnya, meskipun harga ayam hidup turun, integrator tetap untung luar biasa. Contohnya, pada 2018 Japfa untung Rp 2,17 triliun, naik 132,4% dari keuntungan tahun 2017. Untung terkerek oleh harga pakan, dan DOC. Peternak rakyat yang terpisah dari integrasi vertikal hulu-hilir dan posisi tawarnya rendah seringkali menjadi korban. Misalnya, ketika harga jagung naik, harga pakan ikut naik. Sepanjang 2018, harga pakan naik 6 kali. Pembatasan bibit induk (grand parent stock/GPS) di hulu membuat pasokan ayam usia sehari (DOC) terbatas. Meski kualitasnya kurang bagus, harga DOC terus naik. Peternak mandiri terpukul dari dua sisi: biaya input tinggi, tetapi harga output rendah. Situasi ini berulang dari tahun ke tahun. Sejatinya, yang menimpa industri perunggasan rakyat ini masalah klasik. Masalah timbul-tenggelam dan belum ada tanda-tanda akan selesai karena solusi tidak menyentuh akar masalah. Padahal, masalah yang ada sifatnya struktural, dari hulu ke hilir.

 

  1. Pada proses hulu, hampir semua input produksi bergantung impor. Bukan hanya GGPS dan GPS, tapi juga input pakan (bungkil jagung dan kedelai). Ketika harga GGPS/GPS dan bahan pakan di pasar dunia naik atau rupiah tertekan, imbasnya langsung terasa di pasar.
  2. Dominasi perusahaan perunggasan besar atau integrator. Mereka ini bermodal kuat, mengadopsi teknologi modern, terintegrasi vertikal, dan mengendalikan pasar. Integrator juga mengembangkan kemitraan dengan peternak, mitra mendapatkan kemudahan input produksi (DOC, pakan, vaksin) dan pasar. Sebaliknya, peternak rakyat skala kecil, rendah modal dan akses pasar serta teknologi sederhana. Akibat kondisi ini, industri perunggasan terkonsentrasi pada segelintir pelaku, baik dalam penguasaan aset, omzet maupun pangsa pasar. Pada 2017, pemain nomor satu di pasar unggas Indonesia, PT Charoen Pokphand Indonesia, mempertahankan pangsa pasar 31% dalam produksi pakan unggas dan 41% pangsa pasar dalam produksi DOC (Partners, 2017a).

 

 

 


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian
en_USEnglish id_IDIndonesian