Peternakan

Peternakan

Kondisi peternakan Indonesia akan terus mengalami peningkatan sejalan dengan meningkatnya pendapatan per kapita masyarakat dan pertumbuhan jumlah penduduk yang terus membludak. Para peternak Indonesia memiliki peluang yang cukup besar untuk berkembang dan berkontribusi pada pasar Internasional. Bapak Pantjar Simatupang dan Prajogo U .Hadi pada artikelnya yang berujudul “Daya Saing Usaha Peternakan Menuju 2020” mengatakan bahwa, Indonesia pada tahun 2020 masih akan mengalami defisit produksi daging sekitar 2,7 juta ton. Sedangkan sinyal kedua yang perlu di perhatikan ialah Kesepakatan di bidang Pertanian (Agreement on Agriculture, AoA), World Trade Organization (WTO) telah mentargetkan untuk perdagangan bebas harus dapat terlaksana dengan baik pada tahun 2010 dinegara maju dan tahun 2020 di negara berkembang.

 

Defisit produksi daging sekitar 2,7 juta ton.

Defisit ini merupakan peluang bagi peternak domestik yang sangat besar untuk dimanfaatkan. Sebagai negara yang berada di khatulistiwa, Indonesia mempunyai keunggulan komparatif untuk mengembangkan sistem peternakan berbasis pakan rumput (grass-fed livestock farming), seperti halnya sapi potong, kerbau, kambing dan domba. Serta usaha peternakan juga unggul pada sistem peternakan berbasis pakan asal biji-bijian (grainfed livestock farming), yaitu ayam pedaging dan petelur. Perlu adanya pengembangan lebih lanjut agar peternak dapat memanfaatkan keunggulan tersebut secara optimal. Sejauh ini peternak hanya melakukan seadanya dan dengan ilmu yang turun menurun dari nenek moyang. Hal – hal yang perlu ditekankan untuk menjuang perkembangan pada sektor peternakan agar dapat berkompetisi di domestik dan internasional ialah:  

1. Teknologi

Pada kondisi di era sekarang, banyak aktivitas sehari – hari ataupun proses produksi yang ditunjang penuh dengan adanya teknologi. Oleh karena itu, untuk mengembangkan usaha sekaligus meningkatkan daya saing peternakan di Indonesia. Diperlukan pengembangan teknologi spesifik pada sektor peternakan yang disesuaikan dengan lokasi usaha peternakan dengan orientasi pada permintaan pasar domestik dan internasional. Teknologi juga di perlukan untuk memfasilitasi sumber pakan peternakan agar tidak mengalami kepunahan ataupun harus mengimpor dari negara luar.

2. Peran Pemerintah

Pada dekade mendatang, usaha peternakan di Indonesia dihadapkan pada persaingan yang makin tajam. Persaingan yang tidak hanya berlakuk di tingkat domestik melainkan internasional. Didalam negeri sendiri yaitu Indonesia, usaha peternakan yang berbasis lahan (land-based livestock farming) akan bersaing dengan usaha pertanian non-peternakan dalam penggunaan sumber daya lahan dan tenaga kerja. Apabila kebijakan pemerintah lebih terfokus pada peningkatan produksi pangan dengan alasan menjaga ketahanan pangan, maka usaha peternakan berbasis lahan diperkirakan akan makin tergeser dan susah untuk berkembang. Pemerintah harus lebih sadar bahwa, ketahanan pangan tidak hanya dari pertanian, melainkan juga dari sektor peternakan.

 

AoA | Agreement on Agriculture (2020 dilaksanakan di negara berkembang)

 

Produk-produk peternakan Indonesia akan bersaing dengan produk sejenis asal luar negeri, terutama daging dan susu. Kesepakatan pada bidang Pertanian (Agreement on Agriculture, AoA), yang merupakan bagian dari Kesepakatan Umum di bidang Tarif dan Perdagangan (General Agreement on Tariff and Trade, GATT) bekerja sama dengan World Trade Organization (WTO) membuat target untuk melaksanakan perdagangan bebas dengan baik pada tahun 2010 di negara maju dan tahun 2020 di negara sedang berkembang . Hal Ini merupakan sinyal kuat bagi para peternak Indonesia untuk mengembangkan peternakannya agar dapat ikut serta dalam perdagangan bebas. Maka, untuk memenangkan persaingan usaha peternakan Indonesia di kanca internasional, teknologi dan peran peran pemerintah sangat dibutuhkan. Seperti halnya yang telah penulis tulis diatas. Perlu peternak ketahui bahwa setiap jenis ternak memiliki daya saing yang berbeda – beda. Seperti halnya ternak ruminansia yang memiliki ukuran yang besar dan kecil yaitu sapi pedaging, sapi perah, kerbau, kuda, kambing dan domba, dan ternak non-ruminansia yaitu babi dan unggas. Semua jenis diatas memiliki daya saing yang berbeda – beda disetiap negara. Sejauh ini Pasar internasional mungkin belum dapat ditembus karena membutuhkan dukungan sistem rantai pasok yang mampu menyediakan produk dengan mutu, volume dan waktu terjamin. Oleh karena itu, pasar internasional di masa datang akan menjadi ancaman atau kesempatan bagi agribisnis peternakan Indonesia. Agar dapat memanfaatkan kesempatan tersebut :

1. Mengentaskan usaha peternakan rakyat dari perangkap keseimbangan pertumbuhan rendah sehingga menjadi progresif secara mandiri.

Peternakan non-ayam seperti (sapi, sapi perah, kerbau, kambing, domba, dan babi). Mengalami kendala pada proses produksi, sehingga selama ini telah terperangkap ke dalam titik keseimbangan rendah (low equilibrium trap). Hal tersebut karenakan oleh peternakan non-ayam didominasi oleh usaha peternakan rakyat skala kecil, bersifat sebagai usaha sampingan dengan modal serta kapasitas manajemen terbatas. Akselerasi aneka usaha peternakan rakyat mutlak membutuhkan fasilitasi dari pemerintah khususnya dalam pengadaan modal kerja, inovasi teknologi dan kelembagaan, serta wirausaha pelopor atau penghela rantai pasok.

 

2. Pengembangan yang difokuskan pada bidang usaha dengan dukungan sumber daya untuk produksi, inovasi, teknologi dan kelembagaan setiap jenis peternakan.

Keterlibatan pemerintah tidak cukup sebagai fasilitator pasif, tetapi harus menjadi inisiator aktif. Mengingat bahwa fakta yang terjadi di Indonesia merupakan aneka usaha peternakan didominasi oleh usaha peternakan skala kecil yang mungkin telah sampai pada titik jenuhnya dan sulit untuk berkembang karena keterbatasan. Hanya dengan “suntikan” bantuan dan fasilitasi eksternal yang dikelola secara maksimal, usaha peternakan rakyat dapat keluar dari posisi keseimbangan pertumbuhan rendah dan mempunyai daya saing lebih baik karena memiliki volume yang besar dan manajemen yang tepat.

 

 

Dilihat dari sisi produksi, hanya usaha peternakan ayam, khususnya ayam ras pedaging dan petelur, yang mempunyai kemampuan paling tinggi untuk memanfaatkan peluang pasar domestik yang ada. Peternakan ayam ras telah berkembang menjadi suatu industri yang cukup terintegrasi secara vertikal dan amat dinamis karena didukung oleh perusahaan berskala besar, termasuk perusahaan multinasional, khususnya di segmen hulu, yang bertindak sebagai motor penggerak rantai pasok, sehingga disamping dapat memenuhi permintaan pasar domestik, juga mempunyai daya saing yang cukup memadai . Oleh karena itu, peternakan non-ayam ras (sapi, sapi perah, kerbau, kambing, domba, babi, ayam buras) harus mencontoh dalam melakukan sistem peternakan yang didukung oleh perusahaan bersekala besar dengan permodalan dan manajemen yang kuat.

  


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian
en_USEnglish id_IDIndonesian